Senin, 25 November 2024

 

Dampak Narasi Media Massa Arus-Utama terhadap Persepsi Masyarakat mengenai Ahmadiyah

SAP 14

 

            Studi ini mengkritisi kecenderungan studi-studi Ahmadiyah yang mengabaikan kenyataan bahwa persekusi terhadap Ahmadiyah merupakan efek dari narasi media massa arus-utama yang berpihak pada kepentingan politik kelompok Muslim konservatif. Mayoritas studi tentang Ahmadiyah bersifat apolitis, hanya berfokus pada bentuk-bentuk persekusi yang dialami Ahmadiyah (Burhani, 2014; 2019), pada upaya representasi diri yang dilakukan Ahmadiyah melalui ruang media (Schafer, 2015), dan gagal memberikan jawaban mengapa persekusi terjadi (Ghaffar, 2023; Rizkita, 2022; Wulandari, 2023; Tanveer, 2020). Studi Wolf (2019) dan Saeed (2012) dalam konteks Pakistan tampaknya memberikan perhatian pada aspek politik dalam penindasan Ahmadiyah, tetapi mereka juga mengabaikan faktor pengaruh/dampak media. Berbeda dengan itu, dengan merujuk kepada gagasan Perse (2001) tentang pengaruh media massa terhadap opini publik, peneliti berargumen bahwa persekusi dan penindasan yang dialami oleh Ahmadiyah terjadi karena pengaruh media arus-utama yang sangat kuat dikendalikan oleh kepentingan politik mayoritas, dan dalam waktu yang lama, persekusi yang difasilitasi oleh media ini memengaruhi pikiran publik. Perse (2001) menegaskan bahwa dalam pembentukan opini publik, media massa berperan penting sebagai platform di mana isu politik dibahas dan peristiwa politik dimainkan.

Studi ini menggarisbawahi bagaimana suara mayoritas (Muslim konservatif) secara politik mendominasi media arus-utama, dan memengaruhi pikiran publik tentang Ahmadiyah. Hal ini sejalan dengan gagasan Perse (2001) yang mengutip Noelle-Neumann tentang the spiral of silence, di mana suara dominan mayoritas menguasai media massa dan mereka yang minoritas karena takut dipersekusi memilih tidak menyuarakan pemikirannya. Dalam hal ini, narasi mayoritas Muslim tentang Ahmadiyah sebagai kelompok yang sesat dan menyimpang tampil menguasai media arus-utama di satu sisi (Heychael, Rafika, Adiprasetyo, & Arief, 2020), sementara itu, di sisi lain, Ahmadiyah mendiamkan pandangan/narasi mereka untuk menghindari sorotan atau persekusi mayoritas dominan (Kelso, 2022). Studi mutakhir yang dilakukan Ma’arif (2022) di Indonesia dan Tanveer (2020) di Kanada mengonfirmasi bagaimana Ahmadiyah berusaha untuk tidak terlihat berbeda dengan pandangan mayoritas yang dominan.

Peneliti memandang bahwa apa yang dialami oleh Ahmadiyah sebagaimana di atas berkaitan dengan kekuatan media massa dalam pembentukan opini publik. Hal ini merujuk pada gagasan Perse (2001) yang mengatakan, media massa merupakan kekuatan pencipta realitas sosial melalui peliputan opini publik; artinya media massa memproyeksikan konstruksi pandangan politik dalam masyarakat berbasis pada pandangan dominan (Perse, 2001). Berkaitan dengan persekusi Ahmadiyah, media massa arus-utama membentuk realitas sosial tentang kesesatan komunitas ini dengan mengikuti pandangan dan norma mayoritas Muslim sebagai kelompok dominan, yang dikendalikan oleh otoritas MUI. Studi Nastiti (2014) menegaskan bahwa konstruksi sosial terkait minoritas Ahmadiyah terbentuk dengan memberikan prioritas pada pandangan dan nilai-nilai mayoritas. Sehingga, secara politik, keberpihakan media massa arus-utama kepada suara mayoritas telah melemahkan pengaruh pemikiran Ahmadiyah.

Meskipun Ahmadiyah, apabila merujuk Perse (2001) tentang tindakan selektif terhadap konten media, dapat saja menolak konten media massa arus-utama yang mempersekusi mereka, tetapi dominasi suara mayoritas dalam media arus-utama pada waktu yang lama dan terus menerus telah membentuk opini publik tentang keberadaan Ahmadiyah. Sehingga, pikiran umum yang berkembang dalam ruang publik adalah pikiran yang menempatkan Ahmadiyah sebagai kelompok yang telah melenceng dari keyakinan yang benar. Pengalaman persekusi Ahmadiyah di berbagai dunia seperti Pakistan, Malaysia, dan Algeria (Greenwalt, Mohammad, & Vellturo, 2021) juga mengkonfirmasi bagaimana pikiran mayoritas telah menjadi pikiran publik tentang kesesatan Ahmadiyah (Sheikh, & Raja, 2024). Sheikh dan Raja (2024) menunjukkan bagaimana narasi Islam konservatif yang merupakan mayoritas di Asia Selatan digunakan untuk menyebut Ahmadiyah sebagai “yang lain” (telah keluar dari kebenaran).

Peneliti berpendapat bahwa pengalaman panjang persekusi Ahmadiyah di berbagai negara tidak terlepas dari efek kumulatif media dalam waktu yang lama. Perse (2012) mengkategorikan efek spiral keheningan ke dalam model efek kumulatif. Efek kumulatif berfokus pada pentingnya konten media yang seragam di berbagai media massa arus-utama untuk memengaruhi pikiran publik. Dalam hal ini, liputan media yang berpihak pada kepentingan mayoritas tampil konsisten dan terus menerus di berbagai media. Sehingga, berbasis pada efek kumulatif ini, konten media arus-utama membentuk persepsi publik untuk turut mempersekusi Ahmadiyah. Meskipun beberapa studi seperti Burhani (2011), Schafer (2015), dan Wulandari & Bawono (2023) memperlihatkan praktik bermedia dalam komunitas Ahmadiyah, tetapi ketidak-berdayaan Ahmadiyah secara politik tampaknya tidak mampu mengimbangi kekuatan efek kumulatif media massa yang telah berlangsung lama.

Selain itu, dominasi kepentingan politik mayoritas dalam media massa arus-utama semakin terlihat dari ketakutan terhadap isolasi yang cukup konstan dialami komunitas Ahmadiyah belakangan ini. Karena ketakutan isolasi, Ahmadiyah mengubah strategi pergerakannya (Connley, 2016; Solikhati, 2022; Ma’arif, 2022) untuk menghindari benturan dengan kelompok mayoritas. Ketakutan ini terjadi, sebagaimana ditegaskan oleh Perse (2012), sebagai dampak paparan kumulatif dari penggambaran media massa arus-utama yang konsisten berpihak pada opini publik yang dominan. Akan tetapi, upaya Ahmadiyah menghindari tekanan mayoritas menjadi tidak berarti sejak efek paparan kumulatif media telah mengukuhkan norma umum yang berlaku dalam masyarakat tentang kesesatan Ahmadiyah (Heychael, 2021). Ahmadiyah karenanya menjadi semakin terisolasi.

Lebih jauh, studi ini memandang bahwa bentukan pikiran publik terhadap Ahmadiyah merupakan efek dari isu persekusi yang telah menjadi peristiwa media. Dayan & Katz (1992) mengatakan bahwa peristiwa media melebihi apa yang ditayangkan sehari-hari oleh media tetapi tentang peristiwa-peristiwa tertentu yang ditampilkan secara langsung dalam media, menyita perhatian publik, dan memberikan efek secara massal. Persekusi terhadap Ahmadiyah yang berlangsung lama dan terus menerus telah menjadi sebuah krisis dalam konteks pluralitas (Budiwanti, 2001) dan sebagai sebuah krisis, ia menjadi peristiwa media (Perse, 2001). Dalam hal ini, sebagai peristiwa media, persekusi terhadap Ahmadiyah sering kali muncul mewarnai media layaknya sebuah event yang berulang dengan keterlibatan banyak pihak. Dan karena media massa arus-utama membingkai sesuatu berdasarkan opini publik, peristiwa persekusi Ahmadiyah selalu dikuasi oleh narasi yang berpihak pada kepentingan mayoritas.

Pertanyaan yang hendak dijawab adalah bagaimana terpaan media massa arus-utama yang bekerja untuk kepentingan politik kelompok mayoritas berpengaruh terhadap opini masyarakat mengenai persekusi Ahmadiyah?

 

Referensi

Perse, E. M., & Lambe, J. (2001). Media effects and society. Routledge.

Dayan, D. and Katz, E. (1992) Media Events: The Live Broadcasting of History. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Budiwanti, E. (2009). Pluralism collapses: A Study of the Jama’ah Ahmadiyah Indonesia and its persecution (May 19, 2009). Available at SSRN: https://ssrn.com/abstract=1645144 or http://dx.doi.org/10.2139/ssrn.1645144.

Burhani, A.N. (2014). Conversion to Ahmadiyya in Indonesia: Winning Hearts through Ethical and Spiritual Appeals. Journal of Social Issues in Southeast Asia, 1 (3), 657-90. 

Burhani, A. (2019). 12. Ahmadiyah and Islamic Revivalism in Twentieth-Century Java, Indonesia: A Neglected Contribution. In N. Saat & A. Ibrahim (Ed.), Alternative Voices in Muslim Southeast Asia: Discourses and Struggles (pp. 199-220). Singapore: ISEAS Publishing. https://doi.org/10.1355/9789814843812-014.

Connley, A. (2016). Understanding the Oppressed: A Study of the Ahmadiyah and Their Strategies for Overcoming Adversity in Contemporary Indonesia. Journal of Current Southeast Asian Affairs, 35(1), 29-58. https://doi.org/10.1177/186810341603500102.

Greenwalt, P., Mohammad, N.,Vellturo, M. (2021). Persecution of Ahmadiyya Muslims. United States Commission on International Religious Freedom Kohari, A. (2021). How social media became a deadly trap for a minority group in Pakistan. Rest of world. https://restofworld.org/2021/facebook-pakistan-ahmadis/. 

Heychael, M., Rafika, H.,Adiprasetyo, J., & Arief, Y. (2021). Marginalized religious communities in Indonesian Media: A Baseline Study. Remotivi. 

Kelso, E. (2022). Truth in Progress:  Second-Generation Ahmadi-Muslim Women Performing Integration in Germany. Südasien-Chronik-South Asia Chronicle, Universität zu Berlin, pp. 285-306.

Ma’arif, B.S., Hirzi, A.T., & Khuza’i, T.  (2022). Communication dynamics of Jemaat Ahmadiyya Indonesia (JAI) organization after persecution. Routledge.  

Rizkita, M., & Hidayat, A. (2023). Love for all hatred for none: Ajaran teologis dan respon Ahmadi terhadap perusakan Masjid Miftahul Huda di media sosial. Nuanasa, 20 (1). https://doi.org/10.19105/nuansa.v20i1.7378. 

Tanveer. R. (2020). Ahmadiyya and secularism: Religious persecution at home affects endorsement for secular values in Canada. Religion and Culture Major Research Papers. 3. 
https://scholars.wlu.ca/rlc_mrp/3. 

Wolf, S.O. (2019). Persecution against the Ahmadiyya Muslim Community in Pakistan: A multi-dimensional perspective. Sadf Research Report, 1. www.sadf.eu. 

Saeed, S. (2012), "Political Fields and Religious Movements: The Exclusion of the Ahmadiyya Community in Pakistan", Go, J. (Ed.) Political Power and Social Theory (Political Power and Social Theory, Vol. 23), Emerald Group Publishing Limited, Leeds, pp. 189-223. https://doi.org/10.1108/S0198-8719(2012)0000023011.

Schäfer, S. (2015). New Practices of Self-Representation. The Use of Online Media by Ahmadiyya and Shia communities in Indonesia and Malaysia. In Schneider, Richter (Hg.) 2015 – New Media Configurations and Socio-Cultural, 175–198. 

Sheikh, L. A., & Raja, R. (2024). The Othering of the Ahmadiyya Muslim Community: Constructing Narratives. International Journal on Minority and Group Rights (published online ahead of print 2024). https://doi.org/10.1163/15718115-bja10157.

Nastiti, A. (2014). Discursive Construction of Religious Minority: Minoritization of Ahmadiyya in Indonesia. Deutsches Asienforschungszentrum Asian Series Commentaries, 19, Available at SSRN: https://ssrn.com/abstract=2472294.

Senin, 18 November 2024

Media Ahmadiyah dan Perlawanan terhadap Meta-Narasi Keagamaan Mayoritas

REVISI_SAP 13

 

            Beberapa peneliti mengungkapkan bahwa kehidupan dan pengalaman kelompok minoritas Ahmadiyah, sebagai pihak yang dipersekusi (Ghaffar, 2023) berada pada posisi terdominasi dan narasi mereka diabaikan oleh kelompok mayoritas (Hicks, 2018; Seikh & Raja, 2024; Mastro, 2017; Nastiti, 2014; Schäfer, 2017). Namun, kehadiran teknologi media digital telah membawa perubahan bagi pengalaman sehari-hari mereka sebagai minoritas (Schneider & Richter, 2015: Wulandari & Bawono, 2023; Kelso, 2022). Ahmadiyah sebagai pengguna media digital terlibat aktif dalam menghadirkan berbagai narasi alternatif yang berpihak pada eksistensi mereka (Sevea, 2009; Bakti, 2021; Burhani, 2020). Hal ini sejalan dengan gagasan McLuhan (2013) yang menyatakan bahwa kehadiran media sebagai teknologi telah mengubah masyarakat, menciptakan kebiasaan baru yang dinamis, dan melibatkan pengalaman masyarakat dalam penggunaannya. Berkaitan dengan itu, peneliti berargumen bahwa perubahan pengalaman keagamaan Ahmadiyah terjadi sebagai implikasi dari teknologi baru yang mereka gunakan. Teknologi baru ini merupakan teknologi digital yang memengaruhi cara pandang, cara interaksi, dan perlawanan Ahmadiyah terhadap kelompok mayoritas (Schafer, 2018).

            Studi ini menggarisbawahi bagaimana media digital memfasilitasi minoritas Ahmadiyah dalam upaya melawan narasi persekusi yang sentralistik pada media arus-utama yang dikendalikan oleh mayoritas. Berkaitan dengan ini, peneliti merujuk kepada gagasan McLuhan tentang teknologi/media dan desentralisasi. McLuhan (2013) mencontohkan bagaimana pada masanya telegraf membebaskan pers provinsi yang terpinggirkan dari ketergantungan pada pers metropolitan besar. Dalam hal ini, melalui media digital, Ahmadiyah sebagai komunitas terpinggirkan memanfaatkan teknologi digital untuk melawan sentralitas narasi yang terdapat dalam media arus-utama. Hal ini sekaligus mengkritik sentralitas media yang telah menjadikan Ahmadiyah sebagai pihak yang dipersekusi dari waktu ke waktu (Connley, 2016).

Lebih jauh, peneliti berargumen bahwa teknologi digital telah menghadirkan lingkungan baru bagi Ahmadiyah, yang menggantikan lingkungan lama yang penuh keterbatasan sebelum kehadiran teknologi. Hal ini merujuk kepada pandangan McLuhan (2013) bahwa setiap teknologi (media) secara bertahap menciptakan lingkungan baru. Lingkungan tersebut tidak bersifat pasif tetapi sebagai proses yang aktif. Ahmadiyah dalam hal ini hidup dalam lingkungan baru yang aktif dan dinamis karena berbagai fitur teknologi digital yang mereka gunakan. Hal ini sebagaimana dikatakan Mul (2014) bahwa kelengkapan fitur teknologi digital memberikan pengalaman yang berbeda dalam praktik bermedia. Lingkungan baru Ahmadiyah tersebut terbentuk dalam tren penampilan pengalaman keagamaan yang berbeda dari pola konvensional. Temuan Schafer (2018) juga menunjukkan adanya praktik baru dalam representasi diri Ahmadiyah berbasis teknologi digital sebagaimana dialami oleh komunitas Ahmadiyah di Indonesia dan Malaysia.  Menurut temuan Schafer, Ahmadiyah menggunakan media digital untuk menjelaskan tuduhan sesat yang dialamatkan kepada mereka.

          Penggunaan media digital oleh Ahmadiyah berkaitan erat dengan pengalaman sehari-hari mereka yang yang terddampak teknologi itu sendiri. Dalam hal ini, McLuhan (1999) melihat teknologi media menjalankan fungsi seni dengan membuat penggunanya sadar akan dampak psikologis dan sosial dari teknologi. Kehadiran teknologi digital karenanya telah berdampak pada kecenderungan Ahmadiyah untuk memikirkan kembali langkah dan posisi mereka di tengah kelompok mayoritas. Secara psikologis, teknologi digital membangkitkan motivasi diri Ahmadiyah untuk bermanuver di tengah dominasi (Sevea, 2009), sedangkan secara sosial, teknologi digital menciptakan ruang gerak yang lebih leluasa bagi minoritas Ahmadiyah (Wulandari & Bawono, 2023; Salas-Pilco, 2022).

Apa yang dialami oleh Ahmadiyah melalui teknologi/media digital bekerja dalam gagasan 'media adalah pesan.' Berkaitan ini, McLuhan (2013) menekankan posisi media sebagai ruang pembentukan sejarah yang merefleksikan kemajuan dan peradaban. Artinya, pengalaman Ahmadiyah dalam ruang teknologi digital menunjukkan bagaimana teknologi menjadi ruang bagi narasi Ahmadiyah. Karenanya, peneliti berargumen bahwa meskipun pesan keagamaan Ahmadiyah yang disampaikan melalui media tidak diterima oleh atau tidak berdampak kepada mayoritas, penggunaan teknologi media terutama teknologi digital telah mencerminkan kemajuan komunitas ini dan mereka dapat membangun narasi secara leluasa melalui ruang digital itu (Burhani, 2020).

Penggunaan teknologi digital dalam komunitas Ahmadiyah menyediakan ruang aktif bagi mereka untuk meninjau berbagai narasi besar tentang persekusi yang terdapat pada media arus-utama yang dikendalikan oleh kelompok mayoritas (Schneider & Richter, 2015; Solikhati, 2022). Hal ini sejalan dengan McGuigan tentang bagaimana narasi besar (meta-narasi) dapat dikritisi dalam post-modernitas. McGuigan (2006) mengatakan bahwa postmodernitas dicirikan dengan runtuhnya meta-narasi (narasi arus-utama). Pengalaman sehari-hari, teks media, dan bahkan budaya massa popular termasuk ke dalam ciri post-modernitas, yang tidak hanya terbatas pada budaya kaum elit (McGuigan, 2006). Dalam hal ini, Ahmadiyah menjadi agen aktif yang menarasikan pengalaman keseharian mereka melalui ruang digital, untuk melawan narasi utama (meta-narasi), dan tidak terikat dengan budaya atau narasi elit keagamaan yang dikendalikan oleh kelompok mayoritas. Hal ini, sejauh dilakukan melalui ruang digital, menurut Rogers (2021), menjadi ruang bagi penguatan narasi marginal secara lebih massif.

Pengalaman Ahmadiyah dalam kaitan dengan teknologi digital merupakan praktik dekonstruksi terhadap narasi yang telah mapan (. McGuigan (2006) berpendapat bahwa teknologi telah menjadi perantara identitas, menghasilkan metafora tentang dekonstruksi dan rekonstruksi diri dalam antarmuka organisme/mesin. Berkaitan dengan hal ini, Ahmadiyah menjadikan teknologi digital sebagai perantara untuk membangun identitas mereka dan juga melakukan dekonstruksi terhadap narasi yang dibangun oleh kelompok mayoritas yang berasal dari kalangan Muslim konservatif. Hal ini, sepanjang diorientasikan sebagai perlawanan terhadap narasi penindasan, mencerminkan sebuah manuver ideologis yang dilakukan Ahmadiyah (Connely, 2016).

Dekonstruksi melalui ruang digital terhadap narasi persekusi di media arus-utama pada gilirannya menciptakan fragmentasi narasi (Schneider & Richter, 2015), di mana Ahmadiyah mengambil bagian di dalamnya. McGuigan (2006) menegaskan bahwa komputer (sebagai teknologi digital) dapat dilihat sebagai sebagai alat pemberdayaan masyarakat melalui akses informasi di sisi lain, sehingga masyarakat bisa terlibat dalam produksi wacana dan pengetahuan. Berkaitan dengan ini, pengalaman sehari-hari Ahmadiyah mendorong penciptaan narasi perlawanan terhadap narasi arus-utama yang dikendalikan oleh mayoritas dari kelompok Muslim konservatif (Ma’arif, 2022; Wulandari, 2023).

Berdasarkan argumentasi di atas, maka pertanyaan yang hendak dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana Ahmadiyah menggunakan media digital dengan menghadirkan pengalaman mereka untuk melawan narasi persekusi yang dikuasai oleh kelompok mayoritas?

 

Referensi

McGuigan, J. (2006). Modernity and Postmodern Culture, 2nd ed. Maidenhead: Open University Press

McLuhan, M. (2013). Understanding Media: The Extensions of Man. Critical Edition. London: MIT Press.

Burhani, A. (2019). 12. Ahmadiyah and Islamic Revivalism in Twentieth-Century Java, Indonesia: A Neglected Contribution. In N. Saat & A. Ibrahim (Ed.), Alternative Voices in Muslim Southeast Asia: Discourses and Struggles (pp. 199-220). Singapore: ISEAS Publishing. https://doi.org/10.1355/9789814843812-014.

Connley, A. (2016). Understanding the Oppressed: A Study of the Ahmadiyah and Their Strategies for Overcoming Adversity in Contemporary Indonesia. Journal of Current Southeast Asian Affairs, 35(1), 29-58. https://doi.org/10.1177/186810341603500102.

Hicks, J. (2014). Heresy and Authority: Understanding the Turn against Ahmadiyah in Indonesia. South East Asia Research, 22(3), 321–339. https://doi.org/10.5367/sear.2014.0216.

Kelso, E. (2022). Truth in Progress:  Second-Generation Ahmadi-Muslim Women Performing Integration in Germany. Südasien-Chronik-South Asia Chronicle, Universität zu Berlin, pp. 285-306.

Mastro, D.  (2017, September 26). Race and Ethnicity in US Media Content and Effects. Oxford Research Encyclopedia of Communication. Retrieved 18 Nov. 2024, from https://oxfordre.com/communication/view/10.1093/acrefore/9780190228613.001.0001/acrefore-9780190228613-e-122.

Mul, J. D. (2015). “Database Identity: Personal and Cultural Identity in the Age of Global Datafication.” In Been, W.D., Arora, P., & Hildebrandt, M. Crossroads in New Media, Identity and Law the Shape of Diversity to Come. Palgrave Macmillan.

Bakti, A.F. (2021). Involvement of The Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) in Promoting “Peaceful Islam” Through The Website. Proceeding of Saizu International Conference on Transdisciplinary Religious Studies, 82–89. https://doi.org/10.24090/icontrees.2021.14.

Rogers R. (2021). Marginalizing the Mainstream: How Social Media Privilege Political Information. Front. Big Data 4:689036. doi: 10.3389/fdata.2021.689036.

Sevea, I. (2009). 7. The Ahmadiyya Print Jihad in South and Southeast Asia. In R. Michael Feener & T. Sevea (Ed.), Islamic Connections: Muslim Societies in South and Southeast Asia (pp. 134-148). Singapore: ISEAS Publishing. https://doi.org/10.1355/9789812309242-010.

Saeed, S. (2012), "Political Fields and Religious Movements: The Exclusion of the Ahmadiyya Community in Pakistan", Go, J. (Ed.) Political Power and Social Theory (Political Power and Social Theory, Vol. 23), Emerald Group Publishing Limited, Leeds, pp. 189-223. https://doi.org/10.1108/S0198-8719(2012)0000023011.

Schneider, N., & Richter, C. (2015). New Media Configurations and Socio-Cultural Dynamics in Asia and the Arab World. Nomos e-Library. doi.org/10.5771/9783845253923.

Sheikh, L. A., & Raja, R. (2024). The Othering of the Ahmadiyya Muslim Community: Constructing Narratives. International Journal on Minority and Group Rights (published online ahead of print 2024). https://doi.org/10.1163/15718115-bja10157.

Schäfer, S. (2017). Ahmadis or Indonesians? The polarization of post-reform public debates on Islam and orthodoxy. Critical Asian Studies, 50(1), 16–36. https://doi.org/10.1080/14672715.2017.1404925.

Nastiti, A. (2014). Discursive Construction of Religious Minority: Minoritization of Ahmadiyya in Indonesia. Deutsches Asienforschungszentrum Asian Series Commentaries, 19, Available at SSRN: https://ssrn.com/abstract=2472294.

Salas-Pilco, S.Z.; Xiao, K.; Oshima, J. (2022). Artificial Intelligence and New Technologies in Inclusive Education for Minority Students: A Systematic Review. Sustainability, 14, 13572. https://doi.org/10.3390/su142013572.

Wulandari, P. & Bawono, H. (2023). Struggling for recognition archived-based documentary film of the Ahmadiyya Jamaat in Indonesia. Al-Jāmi‘Ah: Journal of Islamic Studies, 61 (2), 393-417, doi: 10.14421/ajis.2023.612.393-417.

 

 

 

 

Minggu, 17 November 2024

 

Media Ahmadiyah dan Perlawanan Terhadap Meta-Narasi Keagamaan Mayoritas

SAP 13

 

            Beberapa peneliti mengungkapkan bahwa kehidupan dan pengalaman kelompok minoritas Ahmadiyah berada pada posisi terdominasi dan narasi mereka tidak dianggap oleh kelompok mayoritas (Hicks, 2018; Seikh & Raja, 2024; Mastro, 2017; Nastiti, 2014; Schäfer, 2017). Namun, kehadiran teknologi media digital telah membawa perubahan bagi pengalaman sehari-hari mereka sebagai minoritas (Schneider & Richter, 2015: Wulandari & Bawono, 2023; Kelso, 2022). Ahmadiyah sebagai pengguna media digital terlibat aktif dalam menghadirkan berbagai narasi alternatif yang berpihak pada eksistensi mereka (Sevea, 2009; Bakti, 2021; Burhani, 2020). Hal ini sejalan dengan gagasan McLuhan (2013) yang menyatakan bahwa kehadiran media sebagai teknologi telah mengubah masyarakat, menciptakan kebiasaan baru yang dinamis, terlepas apapun konten/pesan yang dibawanya. Dalam konteks ini, peneliti berargumen bahwa perubahan pengalaman keagamaan Ahmadiyah terjadi sebagai implikasi dari teknologi baru (digital) yang mereka gunakan. Teknologi baru ini memengaruhi cara pandang, cara interaksi, dan perlawanan Ahmadiyah terhadap kelompok mayoritas.

            Studi ini karenanya menggarisbawahi tentang bagaimana media digital memfasilitasi minoritas Ahmadiyah dalam upaya melawan narasi persekusi yang sentralistik pada media arus-utama yang dikendalikan oleh mayoritas. Berkaitan dengan ini, peneliti merujuk kepada gagasan McLuhan tentang teknologi/media dan desentralisasi. McLuhan (2013) mencontohkan bagaimana pada masanya telegraf membebaskan pers provinsi yang terpinggirkan dari ketergantungan pada pers metropolitan besar. Dalam hal ini, melalui media digital, Ahmadiyah sebagai komunitas terpinggirkan berusaha membebaskan diri dari atau menampilkan narasi alternatif di tengah dominasi narasi media yang dikendalikan oleh kelompok mayoritas. Hal ini sekaligus mengkritik sentralitas media yang telah menjadikan Ahmadiyah sebagai pihak yang dipersekusi dari waktu ke waktu (Connley, 2016).

                Lebih jauh, peneliti berargumen bahwa teknologi digital telah menghadirkan lingkungan baru bagi Ahmadiyah. Hal ini merujuk kepada pandangan McLuhan (2013) bahwa setiap teknologi (media) secara bertahap menciptakan lingkungan baru. Lingkungan tersebut tidak bersifat pasif tetapi sebagai proses yang aktif. Ahmadiyah dalam hal ini hidup dalam lingkungan baru yang aktif dan dinamis karena berbagai fitur teknologi digital yang mereka gunakan. Hal ini sebagaimana dikatakan Mul (2014) bahwa kelengkapan fitur teknologi digital memberikan pengalaman yang berbeda dalam praktik bermedia. Dalam konteks Ahmadiyah, lingkungan baru tersebut terbentuk dalam trend penampilan pengalaman keagamaan yang berbeda dari pola konvensional. Berkaitan dengan ini, temuan Schafer (2018) juga menunjukkan adanya praktik baru dalam representasi diri Ahmadiyah berbasis teknologi digital sebagaimana dialami oleh komunitas Ahmadiyah di Indonesia dan Malaysia.

          Akan tetapi, peneliti memandang bahwa penggunaan media digital oleh Ahmadiyah tidak semata-mata karena mereka dikendalikan oleh teknologi, tetapi juga berkaitan erat dengan kesadaran mereka akan dampak teknologi itu sendiri. Dalam hal ini, McLuhan (1999) melihat teknologi media menjalankan fungsi seni dengan membuat penggunanya sadar akan dampak psikologis dan sosial dari teknologi. Kehadiran teknologi digital karenanya telah berdampak pada kecenderungan Ahmadiyah untuk memikirkan kembali langkah dan posisi mereka di tengah kelompok mayoritas. Secara psikologis, teknologi digital membangkitkan motivasi diri Ahmadiyah untuk bermanuver di tengah dominasi (Sevea, 2009), sedangkan secara sosial, teknologi digital menciptakan ruang gerak yang lebih leluasa bagi minoritas Ahmadiyah (Wulandari & Bawono, 2023; Salas-Pilco, 2022).

Apa yang dialami oleh Ahmadiyah melalui teknologi/media digital, sebagaimana di atas, bekerja dalam gagasan 'media adalah pesan.' Berkaitan ini, McLuhan (2013) menekankan posisi media sebagai penanda kemajuan dan peradaban, tidak lagi semata-mata bergantung pada isi pesan yang disampaikan melaluinya. Artinya, pengalaman Ahmadiyah dalam konteks teknologi digital bukan saja berkutat pada isi pesan keagamaan yang mereka yakini tetapi juga tentang kemajuan dan trend teknologi dalam komunitas. Karenanya, peneliti berargumen bahwa meskipun pesan keagamaan Ahmadiyah yang disampaikan melalui media tidak diterima oleh atau tidak berdampak kepada mayoritas, penggunaan teknologi media terutama teknologi digital telah mencerminkan kemajuan komunitas ini (Burhani, 2020).

Kemajuan teknologi digital dalam komunitas Ahmadiyah pada gilirannya menyediakan ruang aktif bagi mereka untuk meninjau berbagai narasi besar tentang persekusi yang terdapat pada media arus-utama yang dikendalikan oleh kelompok mayoritas. McLuhan (2013) menjelaskan bahwa sering kali terdapat kekurangan atau kelemahan naratif dalam media arus-utama sehingga memerlukan partisipasi pengguna untuk meninjau, mengkritisi, dan menginterpretasikan narasi tersebut. Hal ini sejalan dengan gagasan keruntuhan meta-narasi dalam konteks post-modernitas. Dalam hal ini, peneliti merujuk kepada gagasan McGuigan (2006) yang mengatakan bahwa postmodernitas dicirikan dengan runtuhnya meta-narasi (narasi arus-utama). Pengalaman sehari-hari, teks media, dan bahkan budaya massa popular termasuk ke dalam ciri post-modernitas, yang tidak hanya terbatas pada budaya kaum elit (McGuigan, 2006). Artinya, dalam konteks ini, Ahmadiyah berada pada posisi sebagai agen aktif yang menarasikan pengalaman keseharian mereka melalui ruang digital, untuk melawan narasi utama (meta-narasi), dan tidak terikat dengan budaya atau narasi elit keagamaan yang dikendalikan oleh kelompok mayoritas. Hal ini, sejauh dilakukan melalui ruang digital, menurut Rogers (2021), menjadi ruang bagi penguatan narasi marginal secara lebih massif.

Perlawanan naratif, dalam konteks kemajuan teknologi digital, terbentuk sebagai praktik dekonstruksi terhadap narasi yang telah mapan. McGuigan (2006) berpendapat bahwa teknologi baru (digital) telah menjadi perantara identitas, menghasilkan metafora tentang dekonstruksi dan rekonstruksi diri dalam antarmuka organisme/mesin. Berkaitan dengan hal ini, Ahmadiyah menjadikan teknologi digital sebagai perantara untuk membangun identitas mereka dan juga melakukan dekonstruksi terhadap narasi yang dibangun oleh kelompok mayoritas yang berasal dari kalangan Muslim konservatif. Hal ini, sepanjang diorientasikan sebagai perlawanan terhadap narasi penindasan, mencerminkan sebuah manuver ideologis yang dilakukan Ahmadiyah (Connely, 2016).

Dengan mempertimbangkan pengaruh teknologi digital terhadap pengalaman bermedia Ahmadiyah, peneliti berargumen bahwa dekonstruksi yang dilakukan oleh Ahmadiyah tidak terlepas dari praktik pengalaman dan kebiasaan sehari-hari mereka. Pada gilirannya pengalaman tersebut akan menciptakan narasi atau wacana yang terfragmentasi, di mana Ahmadiyah mengambil bagian di dalamnya. Berkaitan dengan ini, McGuigan (2006) menegaskan bahwa komputer (sebagai teknologi digital) dapat dilihat sebagai alat untuk menyempurnakan kontrol dalam sistem pasar di satu sisi, tetapi juga sebagai alat pemberdayaan masyarakat melalui akses informasi di sisi lain, sehingga masyarakat bisa terlibat dalam produksi wacana dan pengetahuan. Artinya, dalam konteks ini, pengalaman sehari-hari Ahmadiyah dapat mendorong penciptaan wacana baru tentang keberagamaan (Ma’arif, 2022; Wulandari, 2023), sebuah wacana yang menempatkan tradisi Ahmadiyah sebagai sesuatu yang valid dan absah di tengah kelompok mayoritas.

Berdasarkan argumentasi di atas, maka pertanyaan yang hendak dijawab dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana teknologi media digital menghadirkan pengalaman, kebiasaan, dan trend baru bagi kehidupan Ahmadiyah? (2) bagaimana Ahmadiyah memanfaatkan teknologi digital untuk melawan meta-narasi yang dikuasai oleh kelompok mayoritas?


Referensi

McGuigan, J. (2006). Modernity and Postmodern Culture, 2nd ed. Maidenhead: Open University Press

McLuhan, M. (2013). Understanding Media: The Extensions of Man. Critical Edition. London: MIT Press.

Burhani, A. (2019). 12. Ahmadiyah and Islamic Revivalism in Twentieth-Century Java, Indonesia: A Neglected Contribution. In N. Saat & A. Ibrahim (Ed.), Alternative Voices in Muslim Southeast Asia: Discourses and Struggles (pp. 199-220). Singapore: ISEAS Publishing. https://doi.org/10.1355/9789814843812-014.

Connley, A. (2016). Understanding the Oppressed: A Study of the Ahmadiyah and Their Strategies for Overcoming Adversity in Contemporary Indonesia. Journal of Current Southeast Asian Affairs, 35(1), 29-58. https://doi.org/10.1177/186810341603500102.

Hicks, J. (2014). Heresy and Authority: Understanding the Turn against Ahmadiyah in Indonesia. South East Asia Research22(3), 321–339. https://doi.org/10.5367/sear.2014.0216.

Kelso, E. (2022). Truth in Progress:  Second-Generation Ahmadi-Muslim Women Performing Integration in Germany. Südasien-Chronik-South Asia Chronicle, Universität zu Berlin, pp. 285-306.

Mastro, D.  (2017, September 26). Race and Ethnicity in US Media Content and Effects. Oxford Research Encyclopedia of Communication. Retrieved 18 Nov. 2024, from https://oxfordre.com/communication/view/10.1093/acrefore/9780190228613.001.0001/acrefore-9780190228613-e-122.

Mul, J. D. (2015). “Database Identity: Personal and Cultural Identity in the Age of Global Datafication.” In Been, W.D., Arora, P., & Hildebrandt, M. Crossroads in New Media, Identity and Law the Shape of Diversity to Come. Palgrave Macmillan.

Bakti, A.F. (2021). Involvement of The Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) in Promoting “Peaceful Islam” Through The Website. Proceeding of Saizu International Conference on Transdisciplinary Religious Studies, 82–89. https://doi.org/10.24090/icontrees.2021.14.

Rogers R (2021) Marginalizing the Mainstream: How Social Media Privilege Political Information. Front. Big Data 4:689036. doi: 10.3389/fdata.2021.689036.

Sevea, I. (2009). 7. The Ahmadiyya Print Jihad in South and Southeast Asia. In R. Michael Feener & T. Sevea (Ed.), Islamic Connections: Muslim Societies in South and Southeast Asia (pp. 134-148). Singapore: ISEAS Publishing. https://doi.org/10.1355/9789812309242-010.

Saeed, S. (2012), "Political Fields and Religious Movements: The Exclusion of the Ahmadiyya Community in Pakistan", Go, J. (Ed.) Political Power and Social Theory (Political Power and Social Theory, Vol. 23), Emerald Group Publishing Limited, Leeds, pp. 189-223. https://doi.org/10.1108/S0198-8719(2012)0000023011.

Schneider, N., & Richter, C. (2015). New Media Configurations and Socio-Cultural Dynamics in Asia and the Arab World. Nomos e-Library. doi.org/10.5771/9783845253923.

Sheikh, L. A., & Raja, R. (2024). The Othering of the Ahmadiyya Muslim Community: Constructing Narratives. International Journal on Minority and Group Rights (published online ahead of print 2024). https://doi.org/10.1163/15718115-bja10157.

Schäfer, S. (2017). Ahmadis or Indonesians? The polarization of post-reform public debates on Islam and orthodoxy. Critical Asian Studies50(1), 16–36. https://doi.org/10.1080/14672715.2017.1404925.

Nastiti, A. (2014). Discursive Construction of Religious Minority: Minoritization of Ahmadiyya in Indonesia. Deutsches Asienforschungszentrum Asian Series Commentaries, 19, Available at SSRN: https://ssrn.com/abstract=2472294.

Salas-Pilco, S.Z.; Xiao, K.; Oshima, J. (2022). Artificial Intelligence and New Technologies in Inclusive Education for Minority Students: A Systematic Review. Sustainability14, 13572. https://doi.org/10.3390/su142013572.

Wulandari, P. & Bawono, H. (2023). Struggling for recognition archived-based documentary film of the Ahmadiyya Jamaat in Indonesia. Al-Jāmi‘Ah: Journal of Islamic Studies, 61 (2), 393-417, doi: 10.14421/ajis.2023.612.393-417.

 

 

 

 

 

Selasa, 12 November 2024

 

Realitas Semu dalam Narasi Kesesatan Ahmadiyah di Ruang Digital

SAP 12_REVISI

  

Berbagai studi menunjukkan bagaimana kelompok agama minoritas Ahmadiyah mengalami persekusi, seperti yang terjadi di Pakistan, Indonesia, Malaysia, dan Algeria (Nagi, 2019; Budiwanti, 2009; Heychael, et.al, 2020; Greenwalt, 2021). Dalam hal ini, Ahmadiyah mengalami berbagai hujatan kebencian dalam media digital dengan tuduhan sesat (menyimpang dari kebenaran) oleh kelompok mayoritas (Rizkita, 2023; Azeem, 2021; Kohari, 2021). Namun, studi lain menegaskan bahwa persekusi terhadap kesesatan Ahmadiyah cenderung menyampingkan fakta bahwa Ahmadiyah telah mulai membuka diri dengan meredefinisi keyakinan mereka dan juga telah lebih akomodatif dengan masyarakat sekitar (Tanveer; 2020; Ma’arif, 2022). Oleh karena itu, studi ini berargumen bahwa realitas tentang Ahmadiyah yang dibangun dalam ruang digital sebagai komunitas yang sesat dan menyimpang mencerminkan realitas yang tidak berbasis pada pengalaman hidup Ahmadiyah. Hal ini merujuk kepada pandangan Baudrillard (1994) tentang hyper-realitas, yang berarti bahwa realitas simulatif telah mengaburkan pengalaman hidup. Apa yang dianggap ‘realitas’ justru merupakan konstruksi atas sesuatu yang tidak ada atau tidak berbasis pada pengalaman nyata (Baudrillard, 1994).

Penelitian ini menggarisbawahi bagaimana media digital berperan dalam membangun realitas yang hyper (berlebihan). Hal tersebut sejalan dengan gagasan Baudrillard (1994) yang menyatakan bahwa digitality berpotensi menciptakan realitas melebihi apa yang dikonstruksi oleh iklan. Ia mengatakan “pemrosesan mikro, digitalitas, bahasa sibernetik melangkah lebih jauh melalui proses yang sangat mudah, melebihi iklan, dengan perantara sistem komputer.” Artinya, praktik penciptaan realitas semu tentang Ahmadiyah di ruang digital lebih mudah dilakukan dari makanisme iklan (yang cenderung monoton). Dalam konteks ini, kelompok arus-utama mengubah kerja konstruksi mereka terhadap Ahmadiyah dari yang sebelumnya konvensional menuju pola-pola digital. Sehingga, persekusi melalui ruang digital ini berperan membentuk realitas semu Ahmadiyah di tengah masyarakat (Rizkita, 2023; Kohari, 2021).  

Apa yang dilakukan oleh kelompok arus-utama dalam ruang digital adalah membangun realitas Ahmadiyah dengan tidak mengikutsertakan pengalaman Ahmadiyah yang terlihat di ruang nyata. Terkait hal ini, Baudrillard (1994) menyebutnya sebagai kegiatan informasi yang alih-alih memperkaya makna, tetapi menghancurkan intensitas makna dan mengakibatkan inersia (kecenderungan informasi yang diulang-ulang dan tidak berubah). Dalam hal ini, meskipun Ahmadiyah secara faktual telah menampakkan berbagai perubahan, seperti yang ditunjukkan oleh studi terdahulu tentang keterlibatan Ahmadiyah dalam kegiatan kemanusiaan secara nyata (Burhani, 2014; Solikhati, 2022; Tanveer, 2020; Moten, 2018), kelompok arus-utama tetap mengkonstruksi realitas kesesatan Ahmadiyah secara berulang-ulang dalam bahasa-bahasa yang konstan. Ini berarti bahwa realitas yang dibangun oleh arus-utama tentang Ahmadiyah tidak memperhatikan fakta-fakta sosial tentang eksistensi Ahmadiyah yang dinamis. 

Penciptaan realitas simulatif dengan mengabaikan fakta tentang pengalaman hidup, menurut Baudrillard (1994), merupakan bentuk hiper-realitas di mana tanda tidak lagi mencerminkan realitas sesungguhnya tetapi ia mendahuluinya, bahkan mengaburkannya. Dalam hal ini, masyarakat arus-utama telah terlebih dahulu membangun realitas kesesatan Ahmadiyah sebelum melakukan peninjauan lebih jauh tentang fakta-fakta ke-Ahmadiyah-an sehingga mengaburkan antara realitas simulatif dan pengalaman hidup (Chistyakov, 2020). Hal ini seperti yang diilustrasikan oleh Baudrillard (1994) tentang pembuatan peta yang mendahului wilayah; kesesatan Ahmadiyah telah terlebih dahulu diciptakan dalam ilusi sebelum melihat pengalaman hidup Ahmadiyah. 

Realitas semu yang dibangun oleh kelompok arus-utama terhadap Ahmadiyah pada akhirnya mendorong publik (masyarakat luas) ke arah yang pasif. Baudrillard (1994) memunculkan konsep deterrence (penangkalan), yaitu saat simulasi digunakan untuk menahan atau mengendalikan orang agar tidak terlalu banyak bertanya tentang realitas. Tanda atau gambar yang terus dilihat membuat orang merasa puas dan tidak mencari makna yang lebih dalam, sehingga menjadi pasif (Baudrillard, 1994). Dalam hal ini, untuk menangkal pertanyaan publik, kelompok arus-utama mengendalikan (mengelabui) publik dengan narasi atau dalih menjaga kesucian agama atau menjaga agama Tuhan, lalu dengan serta merta menyebut Ahmadiyah telah keluar dari keyakinan yang benar.  

Hal yang penting pula digaris-bawahi adalah realitas Ahmadiyah yang dibangun oleh arus-utama melalui media digital semakin mengaburkan makna. Baudrillard (1994) berpendapat bahwa media menghasilkan implosi (keruntuhan) makna. Ia mengatakan, sering kali diasumsikan bahwa keberadaan informasi memproduksi makna; tetapi keberlimpahan informasi justru mengaburkan makna (we think that information produces meaning, the opposite occurs) (Baudrillard, 1994). Dalam narasi persekusi terhadap Ahmadiyah tampak bahwa keberlimpahan informasi (Bawden & Robinson, 2020) seputar persekusi Ahmadiyah di ruang digital tidak memberikan makna apapun bagi upaya menarik simpati terhadap penindasan yang dialami Ahmadiyah. Pada saat yang bersamaan itu justru hanya mengukuhkan legitimasi perilaku kekerasan terhadap Ahmadiyah. Kondisi ini pada akhirnya menyebabkan publik terjebak dalam nebula hiperreal (kabut realitas buatan), di mana media dan realitas yang tanpa fakta saling membaur sehingga makna menjadi kabur (Baudrillard, 1994). 

Meskipun demikian, keberlangsungan praktik hiperrealitas terkait Ahmadiyah tidak terlepas dari realitas perubahan masyarakat, yang disebut oleh Castells (2010) sebagai masyarakat jaringan (network society), struktur masyarakat baru yang didasarkan pada jaringan yang diberdayakan oleh teknologi informasi. Masyarakat jaringan ini memiliki jangkauan global, melampaui batas-batas geografis konvensional. Studi ini karenanya berargumen bahwa realitas sosial baru yang berjejaring ini semakin membuka ruang bagi persekusi terhadap Ahmadiyah secara mudah dan terbuka. Hal ini terlihat misalnya, berdasarkan temuan Greenwalt (2021), bahwa persekusi Ahmadiyah di Malaysia berjejaring dengan persekusi Ahmadiyah yang terjadi di Pakistan dan Algeria.

Lebih jauh, dalam masyarakat informasi, persekusi arus-utama terhadap Ahmadiyah menggambarkan sebuah dominasi aktor dalam mempertahankan identitas budaya spesifik. Castells (2010) menegaskan bahwa masyarakat informasi ditandai dengan dominasi/keunggulan identitas sebagai prinsip yang mengatur mereka. Dalam konteks ini, seorang aktor sosial mengenali dirinya sendiri dan membangun makna terutama berdasarkan atribut budaya tertentu, dengan mengecualikan budaya lainnya (Castells, 2010; Couldry & Hepp, 2020). Artinya, melalui kemajuan teknologi informasi, kelompok arus-utama berusaha membangun/membingkai identitas budaya keagamaan mereka secara spesifik, sebagai yang benar di satu pihak (Yan, 2020), namun mengecualikan (menggangap sesat) kelompok Ahmadiyah di pihak lain.  

Dengan memberikan penekanan pada realitas kesesatan Ahmadiyah sebagai sesuatu/realitas yang semu, penelitian ini karenanya tidak sejalan dengan pandangan atau narasi keagamaan konservatif yang menarasikan Ahmadiyah sebagai sesat dan menyimpang (Wolf, 2019). Mayoritas studi terdahulu yang berkembang dalam tradisi keagamaan arus-utama menempatkan Ahmadiyah sebagai pihak yang dimusuhi (Akbarizan, 2009; Faizah & Thohri, 2018; Monica et.al, 2023), bahkan dianjurkan untuk dipersekusi. Oleh karena itu, di tengah bangunan realitas tentang kesesatan Ahmadiyah yang mendominasi ruang publik digital, penelitian ini berfokus/bertujuan untuk melihat sisi lain dari konstruksi tersebut dengan menggunakan kerangka Baudrillard (1994) dan Castells (2010). Kerangka Baudrillard (1994) berguna untuk melihat sisi semu dari realitas yang dibangun oleh arus-utama, sementara Castells (2010) akan membantu memperjelas budaya virtual arus-utama dalam konstruksi realitas tersebut. 

Untuk itu, pertanyaan penelitiannya adalah (1) apa bentuk realitas semu tentang kesesatan Ahmadiyah yang disimulasi oleh kelompok arus-utama dalam ruang digital? (2) bagaimana budaya virtual berjejaring yang dimiliki arus-utama memengaruhi simulasi terhadap realitas Ahmadiyah di ruang digital? 

 

Mind Map 

Daftar Pustaka 

Baudrillard, J. (1994). Simulacra and Simulation. Ann Arbor, MI: University of Michigan Press. 

Castells, M. (2000). The Rise of the Network Society, 2nd ed. Oxford: Blackwell. 

Akbarizan, A. (2009). Jamaah Ahmadiyah (Kesesatan yang Merusakan Kerukunan Umat Seagama). Toleransi: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama, 1(2). DOI: http://dx.doi.org/10.24014/trs.v1i2.456. 

Azeem, T. (2021). Pakistan’s Social Media Is Overflowing With Hate Speech Against Ahmadis. The Diplomat. https://thediplomat.com/2021/07/pakistans-social-media-is-overflowing-with-hate-speech-against-ahmadis/. 

Burhani, A.N. (2014). Conversion to Ahmadiyya in Indonesia: Winning Hearts through Ethical and Spiritual Appeals. Journal of Social Issues in Southeast Asia, 1 (3), 657-90. 

Budiwanti, E. (2009). Pluralism collapses: A Study of the Jama’Ah Ahmadiyah Indonesia and its persecution (May 19, 2009). Available at SSRN: https://ssrn.com/abstract=1645144 or http://dx.doi.org/10.2139/ssrn.1645144. 

Bawden, D., & Robinson, L.  (2020). Information Overload: An Introduction. Oxford Research Encyclopedia of Politics. Retrieved 11 Nov. 2024, from https://oxfordre.com/politics/view/10.1093/acrefore/9780190228637.001.0001/acrefore-9780190228637-e-1360. 

Chistyakov, Denis. (2020). Media Construction of Social Reality and Communication Impact on an Individual. Proceedings of 5th International Conference on Contemporary Education, Social Sciences and Humanities-Philosophy of Being Human as the Core of Interdisciplinary Research (ICCESSH 2020). 10.2991/assehr.k.200901.028.  

Couldry, Nick, and Andreas Hepp, 'Media and the Social Construction of Reality', in Deana A. Rohlinger, and Sarah Sobieraj (eds), The Oxford Handbook of Digital Media Sociology (2022; online edn, Oxford Academic, 8 Oct. 2020), https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780197510636.013.2, accessed 10 Nov. 2024. 

Faizah & Thohri, M. (2018). Strategi Penanganan Paham Keagamaan Menyimpang  dalam Perspektif Dakwah (Studi pada Kasus-kasus yang Ditangani MUI NTB). Jurnal Penelitian Keislaman, 14 (1), 13-29. 

Greenwalt, P., Mohammad, N.,Vellturo, M. (2021). Persecution of Ahmadiyya Muslims. United States Commission on International Religious Freedom Kohari, A. (2021). How social media became a deadly trap for a minority group in Pakistan. Rest of world. https://restofworld.org/2021/facebook-pakistan-ahmadis/. 

Heychael, M., Rafika, H.,Adiprasetyo, J., & Arief, Y. (2021). Marginalized religious communities in Indonesian Media: A Baseline Study. Remotivi. 

Moten, A. (2018). Ahmadiyya: Growth and Development of a Persecuted Community. Malaysian Journal of International Relations, 6. 35-46. 10.22452/mjir.vol6no1.4. 

Ma’arif, B.S., Hirzi, A.T., & Khuza’i, T.  (2022). Communication dynamics of Jemaat Ahmadiyya Indonesia (JAI) organization after persecution. Routledge.  

Monica, A., Nur, A.L., Fauzi, A.M., & Sajari, D. (2018). Teologi Ahmadiyah di Indonesia Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy, 5 (2), 17-136.  Doi: http://dx.doi.org/10.24042/ijitp.v5i2.19754. 

Nagi, A. I. (2019). Hate, fear, conformity- How the Pakistani media is marginalizing the persecuted (Unpublished graduate research project). Institute of Business Administration, Pakistan. Retrieved from https://ir.iba.edu.pk/research-projects-msj/2. 

Rizkita, M., & Hidayat, A. (2023). Love for all hatred for none: Ajaran teologis dan respon Ahmadi terhadap perusakan Masjid Miftahul Huda di media sosial. Nuanasa, 20 (1). https://doi.org/10.19105/nuansa.v20i1.7378. 

Tanveer. R. (2020). Ahmadiyya and secularism: Religious persecution at home affects endorsement for secular values in Canada. Religion and Culture Major Research Papers. 3. 
https://scholars.wlu.ca/rlc_mrp/3. 

Solikhati, S. (2022). Religious moderation and the struggle for identity through new media: Study of the Indonesian Ahmadiyya Congregation. Religious, 6 (2). https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/Religious/article/view/15058 

Wolf, S.O. (2019). Persecution against the Ahmadiyya Muslim Community in Pakistan: A multi-dimensional perspective. Sadf Research Report, 1. www.sadf.eu. 

Yan, F. (2020). Media Construction of Social Reality. In: Image, Reality and Media Construction. Springer, Singapore. https://doi.org/10.1007/978-981-32-9076-1_3. 

 

 

 

SINTESIS SAP 9 - SAP 14 SAP CPMK Pertanyaan Pertanyaan Sintesis 9   Teori Me...