Kamis, 05 Desember 2024

SINTESIS SAP 9 - SAP 14

SAP

CPMK

Pertanyaan

Pertanyaan Sintesis

9

 

Teori Media dan Kajian Budaya

Bagaimana Ahmadiyah merepresentasikan pengalaman kebudayaan mereka melalui bahasa dan wacana keagamaan dalam media digital?

 

Bagaimana Ahmadiyah sebagai sub-kultur menginterpretasi pesan-pesan persekusi yang dibuat oleh kalangan mayoritas?

 

10

Teori Media, Interaksionisme, dan Strukturasi

 

Bagaimana Ahmadiyah sebagai agen (minoritas) berdialektika terhadap struktur dominan dengan berbasis pada pengalaman dan praktik sosial mereka melalui ruang digital?

 

Apa narasi dialektis yang dibuat oleh komunitas Ahmadiyah untuk mereproduksi struktur yang kurang berpihak pada minoritas Ahmadiyah?

 

11

Teori Media dan Feminisme

Apa bentuk performa identitas dalam narasi yang ditampilkan oleh perempuan Ahmadiyah di Indonesia dalam ruang digital? 

 

Bagaimana perempuan Ahmadiyah mengartikulasi ulang konstruksi sosial gender yang menyudutkan mereka melalui proses relasi kritis (critical relation)?

12

Teori Media, Hiperrealitas, dan Masyarakat Informasi

 

Apa bentuk realitas simulatif yang mengabaikan pengalaman hidup Ahmadiyah yang dikonstruksi oleh kelompok mayoritas dalam ruang digital?

 

Bagaimana budaya virtual berjejaring yang dimiliki oleh kelompok mayoritas memengaruhi simulasi terhadap realitas Ahmadiyah di ruang digital? 

13

Teori Media dan Modernitas

Bagaimana Ahmadiyah menampilkan pengalaman keagamaan yang lebih terbuka melalui penggunaan teknologi digital dalam melawan persekusi?

 

Apa narasi yang dihadirkan oleh Ahmadiyah dalam melakukan dekonstruksi terhadap meta-narasi (narasi besar) kelompok mayoritas?

 

14

Teori Media dan Efek

Bagaimana kepentingan politik kelompok mayoritas di media massa arus utama memengaruhi opini masyarakat mengenai persekusi Ahmadiyah?

 

Apa bentuk pengaruh dominasi media arus-utama dengan konten anti-Ahmadiyah terhadap persekusi yang dialami Ahmadiyah?

 

-

 

 

Pertanyaan utama:

Bagaimana minoritas Ahmadiyah merepresentasikan pengalaman kebudayaan mereka melalui penggunaan media digital untuk melawan kepentingan politik kelompok mayoritas yang mengendalikan media arus-utama dengan konstruksi realitas anti-Ahmadiyah?

 

Pertanyaan pendukung:

  1. Apa praktik pengalaman kebudayaan yang ditampilkan oleh Ahmadiyah?
  2. Bagaimana Ahmadiyah memadukan pengalaman beragama dengan bentuk teknologi baru yang mereka gunakan?
  3. Apa bentuk realitas anti-Ahmadiyah yang dikonstruksi oleh media arus-utama yang mengabaikan pengalaman hidup Ahmadiyah?

 

Penjelasan Sintesis:

Bagaimana minoritas Ahmadiyah1 merepresentasikan2 pengalaman kebudayaan3 mereka melalui penggunaan media digital4 untuk melawan5 kepentingan politik6 kelompok mayoritas7 yang mengendalikan media arus-utama8 dengan konstruksi realitas anti-Ahmadiyah9?

 

  1. Minoritas Ahmadiyah: merupakan agen/subjek aktif yang melakukan reproduksi pengalaman dan praktik sosial untuk memengaruhi dan berdialektika dengan struktur dominan (Giddens, 1984). Keaktifan agen tercermin dari kemampuan melihat celah perlawanan terhadap kekuasaan (Savea, 2019; Connley, 2016).
  2. Merepresentasikan: merujuk kepada representasi kebudayaan dan pengalaman melalui wacana dan bahasa di media, di mana sesuatu yang ingin disampaikan melalui representasi sangat berkaitan dengan sistem konsep khas yang dimiliki setiap individu dan komunitas (Hall, 1997). Representasi budaya mendorong penghargaan diversitas pengalaman sosial dan budaya (Dambe, 2024), terutama juga dapat memberi jalan keluar bagi kesempitan ruang gerak kelompok minoritas (Batool, 2021).
  3. Pengalaman kebudayaan (keagamaan): ini merujuk kepada sub-budaya keagamaan minoritas yang menantang budaya keagamaan mayoritas (Hebdige, 2002; Hall, 1997). Hal ini mencirikan budaya post-modernitas yang berpihak kepada kelompok terpinggirkan (McGuigan, 2006), termasuk pengalaman kebudayaan yang ditampilkan oleh perempuan minoritas dalam melawan konstruksi budaya dominan (Butler, 1990; Kelso, 2022).
  4. Penggunaan teknologi/media digital: kehadiran teknologi media dalam sejarah kehidupan manusia menghadirkan pengalaman baru dalam bermedia, karena media menjadi ekstensi dari diri manusia (McLuhan, 2013). Selain itu, penggunaan media digital sendiri merujuk pada praktik bermedia berbasis pengalaman sehari-hari (Couldry, 2012; Lindgren, 2022; Grant, 2016; Stjernholm, 2024), untuk membentuk sebuah jaringan yang menghidupkan budaya komunitas (Castells, 2010) dan mendorong partisipasi minoritas (Ahmed, 2024).
  5. Melawan: upaya agen untuk memengaruhi struktur (Giddens, 1984), dan meruntuhkan meta narasi yang telah mapan (McGuigan, 2006), melalui berbagai strategi seperti rasionalisasi gerakan, tindakan resistensi, dan manuver ideologi (Connley, 2016). 
  6. Kepentingan politik: kecenderungan untuk mendominasi pikiran publik melalui agenda media (Perse, 2001), yang berpihak kepada kepentingan mayoritas dan mewacanakan minoritas secara diskriminatif (Douglas, 2022; Saeed, 2012).
  7. Kelompok mayoritas:  merujuk kepada suara dominan yang menguasai media massa arus-utama (Perse & Lambe, 2001; Ittefaq, et.al, 2021). Kelompok mayoritas menggunakan dalih agama mayoritas untuk mengeksklusi komunitas yang berbeda (Sheikh, 2024; Saeed, 2021) dan dilakukan melalui berbagai wacana dan narasi (Nastiti, 2024).
  8. Mengendalikan media arus-utama: merujuk kepada kendali kelompok yang berkuasa/mayoritas atas media massa arus-utama dalam memberikan pengaruh kumulatif terhadap opini publik (Perse & Lambe, 2001), dengan memengaruhi konten pemberitaan (Nagi, 2019), sehingga menjadikan minoritas terpersekusi (Heychael, et.al, 2021).
  9. Realitas anti-Ahmadiyah: merujuk kepada konstruksi/simulasi realitas yang mengabaikan pengalaman hidup minoritas (Baudrillard, 1994). Ahmadiyah digambarkan dalam media sebagai komunitas yang menyimpang (Azeem, 2021), pengkhianat dan penjahat (Nagi, 2019). 


Referensi


Butler, J. (1990). Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. New York: Routledge.

Baudrillard, J. (1994). Simulacra and Simulation. Ann Arbor, MI: University of Michigan Press.

Castells, M. (2000). The Rise of the Network Society, 2nd ed. Oxford: Blackwell.

Couldry, N. (2012). Media, Society, World: Social Theory and Digital Media Practices. Polity Press.

Giddens, A. (1984). The Constitution of Society:  Outline of the Theory of Structuration. Polity Press.

Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. India: SAGE Publications.

McGuigan, J. (2006). Modernity and Postmodern Culture, 2nd ed. Maidenhead: Open University Press

McLuhan, M. (2013). Understanding Media: The Extensions of Man. Critical Edition. London: MIT Pres.

Perse, E. M., & Lambe, J. (2001). Media effects and society. Routledge.

 

Referensi Pendukung:

Ahmed, S., Masood, M., & Wang, Y. (2024). Empowering the religious minority: examining the mobilizing role of social media for online political participation in an Asian democracy. Asian Journal of Communication, (34) 2, 135-155, doi:10.1080/01292986.2024.2317314.

Azeem, T. (2021). Pakistan’s Social Media Is Overflowing With Hate Speech Against Ahmadis. The Diplomathttps://thediplomat.com/2021/07/pakistans-social-media-is-overflowing-with-hate-speech-against-ahmadis/. 

Batool, S., Sultana, S., & Tariq, S. (2021). Social Media and Religious Minorities: Analyzing the Usage of Facebook Groups among Christian Minority to Highlight their Issues in Pakistan. Global Mass Communication Studies Review, VI(I), 117-132. https://doi.org/10.31703/gmcr.2021(VI-I).10.

Connley, A. (2016). Understanding the Oppressed: A Study of the Ahmadiyah and Their Strategies for Overcoming Adversity in Contemporary Indonesia. Journal of Current Southeast Asian Affairs, 35(1), 29-58. https://doi.org/10.1177/186810341603500102.

Douglas, O. (2022). The media diversity and inclusion paradox: Experiences of black and brown journalists in mainstream British news institutions. Journalism, 23(10), 2096-2113. https://doi.org/10.1177/14648849211001778.

Dembe, James. (2024). Cultural Representation in International Media: Trends and Implications. Journal of Communication. 5. 28-39. 10.47941/jcomm.1974. 

Grant, A. (2016). ‘Don’t discriminate against minority nationalities’: practicing Tibetan ethnicity on social media. Asian Ethnicity18(3), 371–386. https://doi.org/10.1080/14631369.2016.1178062.

Heychael, M., Rafika, H.,Adiprasetyo, J., & Arief, Y. (2021). Marginalized religious communities in Indonesian Media: A Baseline Study. Remotivi.

Ittefaq, M., Ejaz, M.W., Jamil, S., Iqbal, A., & Arif, R. (2021). Discriminated in Society and Marginalized in Media: Social Representation of Christian Sanitary Workers in Pakistan. Journalism Practice, DOI: 10.1080/17512786.2021.1939103.

Kelso, E. (2022). Truth in Progress:  Second-Generation Ahmadi-Muslim Women Performing Integration in Germany. Südasien-Chronik-South Asia Chronicle, Universität zu Berlin, pp. 285-306.

Lindgren, S. (2022). Digital Media and Society.  SAGE Publications Ltd.

Nagi, A. I. (2019). Hate, fear, conformity- How the Pakistani media is marginalizing the persecuted (Unpublished graduate research project). Institute of Business Administration, Pakistan. Retrieved from https://ir.iba.edu.pk/research-projects-msj/2. 

Nastiti, A. (2014). Discursive Construction of Religious Minority: Minoritization of Ahmadiyya in Indonesia. Deutsches Asienforschungszentrum Asian Series Commentaries, 19, Available at SSRN: https://ssrn.com/abstract=2472294.

Sevea, I. (2009). 7. The Ahmadiyya Print Jihad in South and Southeast Asia. In R. Michael Feener & T. Sevea (Ed.), Islamic Connections: Muslim Societies in South and Southeast Asia (pp. 134-148). Singapore: ISEAS Publishing. https://doi.org/10.1355/9789812309242-010.

Stjernholm, S. (2024). Being/Having a Muslim Voice: Podcasting, Resonance, Recognition. Journal of Religion in Europe. 1-25. 10.1163/18748929-bja10098.

Sheikh, L. A., & Raja, R. (2024). The Othering of the Ahmadiyya Muslim Community: Constructing Narratives. International Journal on Minority and Group Rights (published online ahead of print 2024). https://doi.org/10.1163/15718115-bja10157.

Witschge, T.,  &  Harbers, F. (2018). "6. Journalism as practice". Journalism, edited by Tim P. Vos, Berlin, Boston: De Gruyter Mouton, pp. 105-124. https://doi.org/10.1515/9781501500084-006.

West-Livingston, L., & Johnson, A. (2024). Branding yourself through social media in vascular surgery. JVS-Vascular Insights. https://doi.org/10.1016/j.jvsvi.2024.100131.




GABUNGAN SINTESIS SAP 2 HINGGA SAP 14

SAP

CPMK

Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan Sintesis

2

Teori media dan praktik

Bagaimana praktik bermedia Ahmadiyah melalui ruang digital menjadi alternatif ruang kritik terhadap narasi media arus-utama yang menempatkan mereka sebagai objek persekusi?

 

Apa bentuk manuver taktis yang dilakukan oleh Ahmadiyah melalui ruang digital dalam melawan dominasi kelompok mayoritas Muslim?

 

3

Teori media, praktik dan sistem sosial

Bagaimana tatanan sosial dominan membatasi manuver kelompok Ahmadiyah melalui ruang ruang digital?

 

Bagaimana kekerasan simbolik bekerja dalam menyudutkan kelompok Ahmadiyah melalui media arus utama?

4

Teori media dan teori sosial

Bagaimana Ahmadiyah memediatisasi pengalaman dan narasi keagamaan mereka dalam ruang digital?

 

Bagaimana Ahmadiyah membangun kekuatan simbolik melalui kemudahan bermedia di tengah dominasi kelompok mayoritas Muslim?

5

Teori media dan konsumsi

Bagaimana norma keagamaan berkontribusi dalam preferensi selera/konsumsi anti-Ahmadiyah di dalam masyarakat mayoritas Muslim?

 

Bagaimana hak keistimewaan dominan yang dimiliki mayoritas Muslim berhubungan dengan atau memperkuat konsumsi/selera anti-Ahmadiyah?

 

Bagaimana stratatifikasi sosial terbentuk dari distingsi selera konsumsi terhadap narasi anti-Ahmadiyah?

6

Teori media dan industri

Bagaimana sistem produksi pada organisasi media arus utama berhubungan dengan tuntutan pasar yang merupakan mayoritas Muslim?

 

Bagaimana tanda-tanda semiotik pada narasi media arus utama dapat dimaknai dalam kaitannya dengan kekuasaan mayoritas?

9

 

Teori Media dan Kajian Budaya

Bagaimana Ahmadiyah merepresentasikan pengalaman kebudayaan mereka melalui bahasa dan wacana keagamaan dalam media digital?

Bagaimana Ahmadiyah sebagai sub-kultur menginterpretasi pesan-pesan persekusi yang dibuat oleh kalangan mayoritas?

10

Teori Media, Interaksionisme, dan Strukturasi

 

Bagaimana Ahmadiyah sebagai agen (minoritas) berdialektika terhadap struktur dominan dengan berbasis pada pengalaman dan praktik sosial mereka melalui ruang digital?

 

Apa narasi dialektis yang dibuat oleh komunitas Ahmadiyah untuk mereproduksi struktur yang kurang berpihak pada minoritas Ahmadiyah?

 

11

Teori Media dan Feminisme

Apa bentuk performa identitas dalam narasi yang ditampilkan oleh perempuan Ahmadiyah di Indonesia dalam ruang digital? 

 

Bagaimana perempuan Ahmadiyah mengartikulasi ulang konstruksi sosial gender yang menyudutkan mereka melalui proses relasi kritis (critical relation)?

12

Teori Media, Hiperrealitas, dan Masyarakat Informasi

 

Apa bentuk realitas simulatif yang mengabaikan pengalaman hidup Ahmadiyah yang dikonstruksi oleh kelompok mayoritas dalam ruang digital?

 

Bagaimana budaya virtual berjejaring yang dimiliki oleh kelompok mayoritas memengaruhi simulasi terhadap realitas Ahmadiyah di ruang digital? 

13

Teori Media dan Modernitas

Bagaimana Ahmadiyah menampilkan pengalaman keagamaan yang lebih terbuka melalui penggunaan teknologi digital dalam melawan persekusi?

 

Apa narasi yang dihadirkan oleh Ahmadiyah dalam melakukan dekonstruksi terhadap meta-narasi (narasi besar) kelompok mayoritas?

 

14

Teori Media dan Efek

Bagaimana kepentingan politik kelompok mayoritas melalui media massa arus utama memengaruhi opini masyarakat mengenai persekusi Ahmadiyah?

 

Apa bentuk pengaruh dominasi media arus-utama dengan konten anti-Ahmadiyah terhadap persekusi yang dialami Ahmadiyah?

 

-

 

 

Pertanyaan Utama:

Bagaimana minoritas Ahmadiyah memediatisasi pengalaman kebudayaan-keagamaan mereka melalui penggunaan teknologi/media digital untuk menavigasi dominasi kelompok mayoritas yang mengendalikan media arus-utama dengan bias produksi dan kepentingan politik?

 

Pertanyaan pendukung:

  1. Apa bentuk navigasi taktis yang dilakukan kelompok minoritas Ahmadiyah?
  2. Apa saja praktik dan pengalaman kebudayaan Ahmadiyah sebagai sub-keagamaan mayoritas?
  3. Bagaimana norma kelompok mayoritas memengaruhi produksi narasi dalam media arus-utama terkait kelompok minoritas Ahmadiyah?
  4. Apa bentuk kepentingan politik mayoritas yang memengaruhi agenda media massa arus-utama?
  5. Bagaimana bias dalam produksi konten media massa arus-utama menghadirkan realitas semu yang mengabaikan pengalaman hidup Ahmadiyah?

Uraian Sintesis:

Bagaimana minoritas Ahmadiyah1 memediatisasipengalaman kebudayaan-keagamaan3 mereka melalui penggunaan teknologi/media digital4 untuk menavigasi5 dominasi6 kelompok mayoritasyang mengendalikan media arus-utama8 dengan bias produksi9 dan kepentingan politik11?


  1. Minoritas Ahmadiyah: merupakan agen/subjek aktif. Meskipun di bawah struktur dominan, agen minoritas dibatasi atau terikat oleh aturan/konsensus yang dianggap benar oleh masyarakat umum (doxa) (Bourdeu, 1977), tetapi agen bisa aktif bertindak secara subversive melalui tindakan kreatif sehari-hari (de Certeau, 1984); agen aktif juga bisa memanfaatkan ruang yang diberikan struktur dengan melakukan reproduksi pengalaman dan praktik sosial (Giddens, 1984; Savea, 2019; Connley, 2016).
  2. Mediatisasi: mediatisasi melalui media digital yang dibangun/dikelola sendiri untuk otoritas alternatif (Couldry, 2012; 2004). Mediatisasi mengkritik dominasi arus-utama dalam pembuatan teks media (Witschge & Harbers, 2018) dan memberikan rekognisi bagi eksistensi/suara minoritas (Stjernholm, 2024).
  3. Pengalaman kebudayaan (keagamaan): ini merujuk kepada sub-budaya keagamaan minoritas yang menantang budaya keagamaan mayoritas (Hebdige, 2002; Hall, 1997; Dembe, 2024). Hal ini mencirikan budaya post-modernitas yang berpihak kepada kelompok terpinggirkan (McGuigan, 2006), termasuk pengalaman kebudayaan yang ditampilkan oleh perempuan minoritas dalam melawan konstruksi budaya dominan (Butler, 1990; Kelso, 2022).
  4. Penggunaan teknologi/media digital: kehadiran teknologi media dalam sejarah kehidupan manusia menghadirkan pengalaman baru dalam bermedia, karena media menjadi ekstensi dari diri manusia (McLuhan, 2013). Selain itu, penggunaan media digital sendiri merujuk pada praktik bermedia berbasis pengalaman sehari-hari (Couldry, 2012; Lindgren, 2022; Grant, 2016), sehingga membentuk sebuah jaringan yang menghidupkan budaya komunitas (Castells, 2010).
  5. Navigasi: membangun narasi taktis melalui media sebagai langkah navigasi di tengah strategi dominasi arus utama (de Certeau, 1984; Batool, 2021). Navigasi taktis bisa diwujudkan melalui rasionalisasi narasi (Budiawan, 2020; Connley, 2016), yang mengedepankan kreatifitas naratif (West-Livingston & Johnson, 2024), dan kemampuan beradaptasi (Batool, 2021; Ahmed, 2024; Ma’arif, 2022).
  6. Dominasi: tatanan sosial dominan di mana terdapat habitus/sistem disposisi yang berlangsung lama, dengan akumulasi modal yang dikuasai kelompok mayoritas (Bourdeu, 1977). Dalam konteks ini, media bahkan menjadi alat penguatan habitus arus-utama (Nugroho, 2013; Heychael, 2021).
  7. Kelompok mayoritas: mereka yang menguasai berbagai bentuk modal (ekonomi, sosial, budaya, simbolik) (Bourdieu, 1984). Mayoritas tampil sebagai suara dominan yang menguasai media massa arus-utama (Perse & Lambe, 2001; Ittefaq, et.al, 2021), dengan menggunakan dalih agama mayoritas untuk mengeksklusi komunitas yang berbeda (Sheikh, 2024; Saeed, 2021) dan dilakukan melalui berbagai wacana dan narasi (Nastiti, 2024).
  8. Mengendalikan media arus-utama: merujuk kepada kendali kelompok yang berkuasa/dominan atas media massa arus-utama sehingga media arus-utama memberikan pengaruh secara kumulatif terhadap opini publik (Perse, 2001), dengan memengaruhi konten pemberitaan (Nagi, 2019), sehingga menjadikan minoritas terpersekusi (Heychael, et.al, 2021).
  9. Bias produksi: Bias produksi berkaitan dengan konstruksi/simulasi realitas yang mengabaikan pengalaman hidup minoritas (Baudrillard, 1994). Hal ini terjadi karena pengorganisasian produksi narasi sarat dengan prosedur, sistem hirarkis, dan pengaruh nilai-nilai arus-utama (Hesmondhalgh, 2010). Dalam konteks ini, kelas dominan dengan norma-normanya seringkali memengaruhi proses produksi media arus-utama (Heychael et.al, 2021), dan minoritas digambarkan dalam media sebagai komunitas yang menyimpang (Azeem, 2021), pengkhianat dan penjahat (Nagi, 2019). 
  10. Kepentingan politik: kecenderungan untuk mendominasi pikiran publik melalui agenda media (Perse, 2001). Hal ini terlihat dari institusi atau struktur media yang memuat tanda-tanda diskursif/semiotik (bahasa dan simbol) tertentu yang bisa dimaknai sebagai kepentingan kekuasaan mayoritas (Sum & Jessop, 2013). Untuk tujuan meraih keuntungan politik-ekonomi, media yang berpihak pada kepentingan mayoritas mewacanakan minoritas secara diskriminatif (Douglas, 2022).



Referensi

Referensi Utama:

Bourdieu, P. (1977). Outline of a theory of practice. Cambridge University Press.

Bourdieu, P.  (1984). Distinction: A social critique of the judgment of taste. Harvard University Press.

Butler, J. (1990). Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. New York: Routledge.

Baudrillard, J. (1994). Simulacra and Simulation. Ann Arbor, MI: University of Michigan Press.

Castells, M. (2000). The Rise of the Network Society, 2nd ed. Oxford: Blackwell.

Couldry, N. (2004). Theorising media as practice. Social Semiotics, 14 (2), 115-132, 10.1080/1035033042000238295.

Couldry, N. (2012). Media, Society, World: Social Theory and Digital Media Practices. Polity Press.

De Certeau, M. (1984). The practice of everyday life. University of California Press.

Giddens, A. (1984). The Constitution of Society:  Outline of the Theory of Structuration. Polity Press.

Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. India: SAGE Publications.

Hesmondhalgh, D. (2010). ‘Media industry studies, media production studies’, in J. Curran (ed.), Media and Society. London: Bloomsbury Academic, pp. 145–63.URL

Hesmondhalgh, D., & Toynbee, J. (2008). The Media and Social Theory. Routledge.

Sum, N. L., & Jessop, B. (2013). Towards a cultural political economy: Putting culture in its place in political economy. Edward Elgar Publishing. ZAURL.

McGuigan, J. (2006). Modernity and Postmodern Culture, 2nd ed. Maidenhead: Open University Press

McLuhan, M. (2013). Understanding Media: The Extensions of Man. Critical Edition. London: MIT Pres.

Perse, E. M., & Lambe, J. (2001). Media effects and society. Routledge.

 

 

Referensi Pendukung:

Ahmed, S., Masood, M., & Wang, Y. (2024). Empowering the religious minority: examining the mobilizing role of social media for online political participation in an Asian democracy. Asian Journal of Communication, (34) 2, 135-155, doi:10.1080/01292986.2024.2317314.

Al-Issa, N., Dens, N. and Kwiatek, P. (2024), The interplay of culture, religion and luxury consumption: a cross-national investigation. Journal of Islamic Marketing15 (6), 1608-1631https://doi.org/10.1108/JIMA-05-2023-0153.

Azeem, T. (2021). Pakistan’s Social Media Is Overflowing With Hate Speech Against Ahmadis. The Diplomathttps://thediplomat.com/2021/07/pakistans-social-media-is-overflowing-with-hate-speech-against-ahmadis/. 

Batool, S., Sultana, S., & Tariq, S. (2021). Social Media and Religious Minorities: Analyzing the Usage of Facebook Groups among Christian Minority to Highlight their Issues in Pakistan. Global Mass Communication Studies Review, VI(I), 117-132. https://doi.org/10.31703/gmcr.2021(VI-I).10.

Budiawan. (2020). New Media and Religious Conversion Out of Islam Among Celebrities in Indonesia. The Indonesian Journal of Southeast Asian Studies, 3 (2), https://doi.org/10.22146/ikat.v3i2.51048.

Connley, A. (2016). Understanding the Oppressed: A Study of the Ahmadiyah and Their Strategies for Overcoming Adversity in Contemporary Indonesia. Journal of Current Southeast Asian Affairs, 35(1), 29-58. https://doi.org/10.1177/186810341603500102.

Dembe, James. (2024). Cultural Representation in International Media: Trends and Implications. Journal of Communication. 5. 28-39. 10.47941/jcomm.1974. 

Douglas, O. (2022). The media diversity and inclusion paradox: Experiences of black and brown journalists in mainstream British news institutions. Journalism, 23(10), 2096-2113. https://doi.org/10.1177/14648849211001778.

Grant, A. (2016). ‘Don’t discriminate against minority nationalities’: practicing Tibetan ethnicity on social media. Asian Ethnicity18(3), 371–386. https://doi.org/10.1080/14631369.2016.1178062.

Heychael, M., Rafika, H.,Adiprasetyo, J., & Arief, Y. (2021). Marginalized religious communities in Indonesian Media: A Baseline Study. Remotivi.

Ittefaq, M., Ejaz, M.W., Jamil, S., Iqbal, A., & Arif, R. (2021). Discriminated in Society and Marginalized in Media: Social Representation of Christian Sanitary Workers in Pakistan. Journalism Practice, DOI: 10.1080/17512786.2021.1939103.

Kelso, E. (2022). Truth in Progress:  Second-Generation Ahmadi-Muslim Women Performing Integration in Germany. Südasien-Chronik-South Asia Chronicle, Universität zu Berlin, pp. 285-306.

Lindgren, S. (2022). Digital Media and Society.  SAGE Publications Ltd.

Ma’arif, B.S., Hirzi, A.T., & Khuza’i, T.  (2022). Communication dynamics of Jemaat Ahmadiyya Indonesia (JAI) organization after persecution. Routledge.

Nagi, A. I. (2019). Hate, fear, conformity- How the Pakistani media is marginalizing the persecuted (Unpublished graduate research project). Institute of Business Administration, Pakistan. Retrieved from https://ir.iba.edu.pk/research-projects-msj/2. 

Nastiti, A. (2014). Discursive Construction of Religious Minority: Minoritization of Ahmadiyya in Indonesia. Deutsches Asienforschungszentrum Asian Series Commentaries, 19, Available at SSRN: https://ssrn.com/abstract=2472294.

Rius-Ulldemolins, J., Pizzi, A., & Paya, R. (2023). Religion as a factor in cultural consumption: Religious denomination and its impact on reading practices and ballet-opera attendance in Europe. International Journal of Comparative Sociology, 64(3), 225-248. https://doi.org/10.1177/00207152221118627.

Sevea, I. (2009). 7. The Ahmadiyya Print Jihad in South and Southeast Asia. In R. Michael Feener & T. Sevea (Ed.), Islamic Connections: Muslim Societies in South and Southeast Asia (pp. 134-148). Singapore: ISEAS Publishing. https://doi.org/10.1355/9789812309242-010.

Stjernholm, S. (2024). Being/Having a Muslim Voice: Podcasting, Resonance, Recognition. Journal of Religion in Europe. 1-25. 10.1163/18748929-bja10098.

Sheikh, L. A., & Raja, R. (2024). The Othering of the Ahmadiyya Muslim Community: Constructing Narratives. International Journal on Minority and Group Rights (published online ahead of print 2024). https://doi.org/10.1163/15718115-bja10157.

Witschge, T.,  &  Harbers, F. (2018). "6. Journalism as practice". Journalism, edited by Tim P. Vos, Berlin, Boston: De Gruyter Mouton, pp. 105-124. https://doi.org/10.1515/9781501500084-006.

West-Livingston, L., & Johnson, A. (2024). Branding yourself through social media in vascular surgery. JVS-Vascular Insights. https://doi.org/10.1016/j.jvsvi.2024.100131.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SINTESIS SAP 9 - SAP 14 SAP CPMK Pertanyaan Pertanyaan Sintesis 9   Teori Me...